Upaya Mengatasi Dampak Sosial Perubahan Iklim di Pesantren Muhammad Nasir

Di Desa Alahan Panjang yang terletak di Kabuapten Solok, Propinsi Sumatera Barat, berdiri Pesantren Muhammad Nasir. Pesantren ini menyediakan tempat bernaung dan pendidikan bagi keluarga-keluarga yang kurang mampu. Para guru serta siswa-siswi yang berjumlah sekitar 500 orang dari tingkat SMP sampai dengan SMA, tinggal di sini. Memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka seringkali merupakan tantangan, terlebih lagi ketika para siswa naik kelas dan hendak lulus, pesantren menghadapi tantangan dalam hal menyediakan dana untuk biaya pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, pesantren bergantung pada pertanian dan lahan yang dimilikinya. Sekitar 10 hektar lahan diberikan kepada pesantren sebagai hibah dari masyarakat sekitar. Meski demikian, hanya sebagian kecil dari lahan sumbangan tersebut yang digarap. Sebagian lahan ini dalam kondisi kritis karena praktik-praktik yang tidak ramah lingungan sehingga mendorong terjadinya deforestasi dan degradasi lahan, akibatnya lahan tersebut tidak dapat digunakan pesantren untuk lahan pertanian.

Deforestasi dan degrasi lahan membawa dampak pada pencaharian masyarakat lokal, menyebabkan produktivitas lahan pertanian dan pendapatan menurun. Dampak buruk terhadap sumber daya alam dan lingkungan telah menyebabkan kekeringan, banjir dan hilangnya keanekaragaman hayati.


Intervensi: Desain Ilmu Pengetahuan Berkelanjutan
Pada masa lalu beberapa upaya dilakukan untuk mengatasi permasalahan deforestasi dan degradasi lahan yang timbul di sekitar desa, namun upaya tersebut menggunakan pendekatan teknokratis yang berfokus pada solusi lingkungan, seperti rehabilitasi fisik lahan. Tanpa perhatian memadai terhadap masyarakat dan kebutuhan sosio-ekonomi mereka, solusi-solusi yang hanya melihat dari satu dimensi saja tidak membawa dampak yang berkelanjutan.

Pendekatan yang baru berupaya untuk mengatasi kebutuhan masyarakat serta isu-isu lingkungan yang mendesak secara bersamaan, dengan mengaitkan rehabilitasi lahan dan peningkatan mata pencaharian masyarakat setempat. Hal ini dicapai melalui pendekatan teori serta praktik yang mencakup pelatihan dan pendampingan oleh PATPKP Universitas Andalas guna menyusun sistem terintegrasi dengan elemen-elemen berikut:
  • Ternak Sapi: Selain menghasilkan peluang penghasilan tambahan, kegiatan ini juga memproduksi kompos dari kotoran hewan yang dimanfaatkan untuk rehabilitas lahan kritis. Di masa depan, biogas yang bernilai tambah juga dapat diproduksi dengan memanfaatkan kotoran tersebut.
  • Pembibitan Pohon-pohon Hutan dan Benih Kopi: Pembibitan benih pohon dan biji kopi memberikan keuntungan ekonomi dan pendapatan dalam jangka pendek. Benih dari tanaman lain juga diproduksi di tempat pembibitan, seperti cabai, kentang dan stroberi.
  • Penanaman Biji Kopi: Kopi adalah tanaman yang cocok untuk wilayah proyek (1.600 m di atas permukaan laut). Perkebunan kopi dapat membantu rehabilitas lahan kritis sembari berkontribusi terhadap ekonomi setempat karena kopi dapat dipanen dua tahun setelah ditanam.
  • Menanam Pohon Eukaliptus: Pohon Eukaliptus adalah pohon cepat tumbuh yang cocok ditanam di lokasi proyek. Pohon-pohon ini bermanfaat terhadap rehabilitas lahan kritis, dan berguna untuk menaungi bibit-bibit kopi. Dalam jangka panjang, pohon eukaliptus yang sudah dewasa dapat dijual untuk menyediakan bantuan keuangan bagi para santri di pesantren untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.
  • Model Percontohan: Pengalaman penerapan model ilmu pengetahuan berkelanjutan akan digunakan untuk mengembangkan kebijakan pemerintah daerah mengenai Sinergi dan Kemitraan untuk Pembangunan Berkelanjutan (SPSD), yang akan melembagakan pendekatan ilmu pengetahuan berkelanjutan dalam pembuatan kebijakan daerah.


Kerja


Tidak ada komentar: