Pagi di Jalan Braga Bandung

Jalan-jalan di Jalan Braga enaknya di pagi hari saat belum ramai pengunjung dan belum banyak kendaraan lalu-lalang, apalagi jika ingin berfoto-foto. Sebelum jalan-jalan ke sana, cari info dulu, terutama tentang sejarahnya yang menarik. Jalan Braga tersohor pada tahun 1920-an masa Hindia Belanda. Kala itu Jalan Braga menjadi pusat perniagaan dengan butik, kafe dan restoran kelas atas bernuansa Eropa – dan karena itu mendapat julukan Parijs van Java. Jalan Braga asik dinikmati dengan berjalan kaki. Jika membawa kendaraan, sebaiknya diparkir saja agar bisa menyusuri keindahan bangunan sembari berfoto di sepanjang Jalan Braga.

Sejarah Jalan Braga
Jalan Braga yang merupakan utama di Kota Bandung semula bernama Karraweg oleh penduduk setempat dialihbahasakan menjadi Pedatiweg karena jalan itu hanya bisa dilewati pedati. Pembangunan jalan di sini awalnya untuk menghubungkan De Grote Postweg (Jalan Pos Besar) dengan gudang kopi milik Andries de Wilde, pengusaha perkebunan kopi berkebangsaan Belanda. Gudang kopi tersebut kini menjadi Balaikota.

Pada tahun 1856 ketika Bandung menjadi ibu kota Karesidenan Priangan, beberapa hunian warga Belanda dibangun di Jalan Braga. Sementara itu, perumahan lainnya masih beratapkan ijuk, rumbia, atau ilalang. Hingga tahun 1874, hanya terdapat enam hingga tujuh rumah dari batu di Jalan Braga.

Sekitar tahun 1882, di bagian selatan jalan ini, sebuah kelompok teater berdiri dengan nama Toneel Braga. Karena banyak orang datang untuk menonton pertunjukan mereka tiap malam maka konstruksi jalan diperbaiki dengan menggunakan batu dan lampu minyak dipasang sebagai penerang jalan. Sejak saat itulah mulai dikenal dengan sebutan Jalan Braga.

Pada tahun 1884, pembangunan rel kereta yang menghubungkan Batavia dengan Bandoeng mulai dilakukan. Pembagunan ini mendorong terjadinya pertumbuhan pesat. Bangunan-bangunan baru didirikan di ujung selatan jalan, sementara bagian utara masih berupa hutan karet. Jalan Braga menjadi kian terkenal dengan adanya toko kelontong De Vries yang menjual kebutuhan sehari-hari bagi pemilik perkebunan. Hotel, bank dan kafe juga didirikan sehingga Jalan Braga menjadi pusat belanja. Pada awal abad 20-an, jalan ini semakin ramai dengan masuknya perusahaan Barat terkemuka, termasuk distributor mobil Chrysler, Plymouth dan Renault. Selain itu, toko buku, toko jam tangan dan perhiasan, serta butik-butik mewah juga dibuka di Jalan Braga.

Pada tahun 1900-an, bersamaan dengan rencana pemerintah Hindia Belanda untuk memindahkan ibu kota dari Batavia ke Bandung, pemerintah memasukkan Jalan Braga ke dalam bagian perencanaan kota. Jalan-jalan yang terbuat batu kemudian diaspal pada tahun 1906. Selain itu, diterapkan aturan baru berkaitan dengan desain bangunan di jalan itu. Sejak itu bangunan bergaya Art Deco mulai didirikan dan hingga kini 50% diantaranya masih ada di Jalan Braga.

Modernisasi Jalan Braga dilakukan tahun 1920-1930 dan menjadikannya sebagai pertokoan eksklusif. Seiring dengan terjadinya Perang Dunia II tahun 1942, pamor Jalan Braga mulai surut. Menjelang Konferensi Asia Afrika tahun 1955, bangunan-bangunan di Jalan Braga dipercantik. Kemeriahan Jalan Braga pun hidup kembali.

Bangunan di Jalan Braga
Gedung Merdeka berlokasi di ujung sebelah selatan Jalan Braga tepat di tikungan jalan. Gedung Merdeka dulu dipakai sebagai tempat pertemuan Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955. Gedung ini semula bernama Societeit Concordia dibangun pada tahun 1895 sebagai clubhouse tempat berkumpul para elit dan papan atas masa itu. Pada tahun 1920 dan 1928 gedung ini mengalami renovasi yang dipimpin oleh 2 arsitek Belanda bernama Van Galen Last and C. P. Wolff Schoemaker. Saat ini Gedung Merdeka berfungsi sebagai Museum Konferensi Asia Afrika.

Kantor Pusat Bank Jabar berada di bagian tenggara Jalan Braga bersimpangan dengan Jalan Naripan. Dulunya bangunan ini juga digunakan untuk kantor bank yakni DENIS (De Eerste Nederlandsch-Indische Spaarkas atau Tabungan Hindia Belanda Pertama). Bangunan ini dirancang dengan gaya arsitektur modern yang radikal oleh arsitek Belanda A. F. Aalbers pada tahun 1936. Ia menerapkan gaya arsitektur aliran Amsterdam dengan dialek ekspresionisme yang kuat, yang ditunjukkan oleh kurva bulat di sepanjang sisi horizontal dan satu fasad vertikal di tengahnya, namun juga arsitektur modernis untuk desain interior.

Bandung



Tidak ada komentar: