Pinisi

Pinisi adalah kapal layar tradisional khas asal Indonesia, yang berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan tepatnya dari desa Bira kecamatan Bonto Bahari Kabupaten Bulukumba. Pinisi sebenarnya merupakan nama layar. Kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang; umumnya digunakan untuk pengangkutan barang antarpulau. Dua tiang layar utama tersebut berdasarkan 2 kalimat syahadat dan tujuah buah layar merupakan jumlah dari surah Al-Fatihah. Pinisi adalah sebuah kapal layar yang menggunakan jenis layar sekunar dengan dua tiang dengan tujuh helai layar yang dan juga mempunyai makna bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengharungi tujuh samudera besar di dunia.

Istilah Pinisi
Sebagai tipe perahu asal Sulawesi, kata 'pinisi' pertama kali disebutkan pada akhir tahun 1990-an: seorang pejabat pemerintah Hinda-Belanda menggambarkannya sebagai "sejenis sekunar kecil yang bertali-temali menyerupai buatan Eropa" yang ia saksikan di daerah Mandar, kini bagian selatan Propinsi Sulawesi Barat. Sampai perang dunia kedua, dan akhir tahun 1950-an, dalam dokumen dan paparan saksi mata, tipe-tipe perahu yang menggunakan layar serupa biasanya dinamakan sesuai dengan jenis lambung. Seperti perahu asal Sulawesi Selatan yang berdagang ke Singapura; perahu salompong yang dibuat di Tana Beru; perahu padewakang asal Mandar yang dilengkapi dengan ketujuh layar kets-sekunar itu.

Istilah 'pinisi' sepertinya baru menjadi lebih umum digunakan dengan munculnya lambung tipe jonggolang pada awal tahun 1960-an: Sementara berbagai sumber abad-abad sebelumnya sudah menyebutkan perahu padewakang atau palari yang digerakkan oleh layar tanja, sejenis layar segi empat yang serupa dengan yang sudah terpahat pada relief-relief Borobudur, baru lambung sri jonggolang-lah yang dikhususkan untuk tipe layar yang kii melambangkan pelayaran di Sulawesi Selatan itu.

Makassar


Tidak ada komentar: