Ah, Indonesia Kapan Mengenalmu Menyeluruh?


Setelah pesawat lepas landas dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, dari atas pesawat terlihat pantai berbentuk hati. Meski sudah beberapa kali ke Makassar namun baru kali ini saya lihat pemandangan ini. Sayang, tangan ini tak cukup cekatan untuk mengambil fotonya. Pesawat melesat cepat. Jadinya cuma dapat foto salah satu ujung pantai hati itu.


Selanjutnya, dari jendela pesawat terlihat pulau — satu pulau kecil sendirian di tengah hamparan air. Tiba-tiba saya ingin tahu itu pulau apa. Adakah orang-orang yang tinggal di situ? Apakah anak-anak pada sekolah di situ? Adakah pasar? Puskesmas? Ah, Indonesia kapan bisa mengenalmu menyeluruh? Banyak sekali tempat-tempat yang belum saya kenal.


Sekitar 1 jam kemudian, matahari yang amat sangat terik menyengat dan menyilaukan mata. Bikin ingin tutup penutup jendela. Untung saja saya biarkan terbuka. Karena tak lama kemudian, di luar sekejap redup. Teduh. Matahari tenggelam. Hendak pulang. Apakah matahari bersukacita, seperti saya, saat hendak pulang? Hmmm... 

  
Setelah sunset, pemandangan berikutnya adalah sungai [mungkin jalan?] berkelok. Setiap kali lihat pemandangan berkelok, kepala ini langsung bersenandung lagu The Beatles "The Long and Winding Road". 


Setiap kali lihat pemandangan jalanan atau sungai berkelok-kelok, saya juga langsung ingat bahwa perjalanan hidup seperti itu: panjang, berkelok. Ya, kadangkala seperti itu. Nggak selamanya seperti itu. Tapi setiap orang, melewati perjalanan seperti itu, dengan rutenya masing-masing. Kadang, ujung perjalanannya manis, kadang manisnya masih tertunda.


Mendekati Jakarta, pemandangan yang sudah akrab menghampiri jendela: perahu, kapal, gedung-gedung tinggi di bibir pantai. Sampai sekarang, kubelum tahu itu persisnya dimana. Nanti kalau tau, kapan-kapan ke sana. Sekarang pulang dulu.


Tidak ada komentar: